amg                                           Yayasan Berita Hidup

 

 

 

 

 

Spiros Zodhiates

MENGAPA KRISTUS MENAMPAKAB DIRI KEPADA SAUDARANYA YAKOBUS ?

 

Spiros “Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus ..” ( 1 Korintus 15:17a)" 

      Ketika tubuh dua anak yang hilang ditemukan disebuah kawasan hutan dinegara bagian New York beberapa waktu silam,  polisi memanggil ibu kedua anak itu untuk memberikan identifikasi positif. Kapan saja muncul pertanyaan tentang identitas seseorang, kesaksian dari sanak keluarga yang dekat sangat menentukan.

  Karena itu, siapa yang paling berkualitas untuk memberikan kesaksian tubuh (kebangkitan) Yesus Kristu - - bahwa yang bangkit itu benar-benar Dia - -, kalau bukan saudaraNya sendiri? Makanya, supaya tidak menimbulkan kesangsian terhadap identitasNya, Tuhan kita, sesudah menempakkan diri kepada 500 orang percaya di Galilea, lantas menampakkan diri juga kepada saudaraNya, Yakobus.

 Rasul Paulus satu-satunya orang yang mencatat peristiwa ini. Seluruh bukti menunjuk pada kenyataan bahwa Yakobus yang Paulus sebut adalah adik pertama Tuhan Yesus. Kita duga dia adalah yang tertua dari antara adik-adik Yesus karena dalam daftar saudara-saudar Yesus menurut daging yang terdapat dalam Matius 13:55 namanya didaftarkan pada urutan pertama: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas. Mengapa Yesus begitu menonjol penyataan khusus kebangkitanNya kepada Yakobus?

 Mengapa ia berlawan muka dengan Yakobus. Kalau kita pelajari kehidupan Yakobus, kita mendapati alasan-alasan yang baik untuk ini, terlepas dari kenyataan bahwa ia dapat menjadi saksi identitas Yesus yang tak dapat disangsikan. 

Yohanes 7:5 menceritakan kepada kita bahwa selama pelayananNya didunia , “saudara-saudaraNya sendiripun tidak percaya kepadaNya.”  Tuhan Yesus dengan kepedihan jiwa yang unik meratapi Yerusalem yang tidak mau bertobat,  tidakkah juga Ia mencucurkan air mata kepedihan yang lebih pahit untuk keluargaNya secara manusia, dengan siapa Ia telah bergaul selamaa 30 tahun?

 Sudah pasti Maria dan Yusuf telah percaya,  tetapi adik-adikNya tentu sukar menerima pengakuan keIlahian dan ke-Messiasan kakak tertua mereka.

 Tuhan Yesus, selaku manusia, mempunyai perasaan kasih yang luar biasa terhadap sanak keluargaNya menurut daging. Ia akan sangat tidak manusiawi, kalau tidak punya perasaan demikian, karena selaku manusia, dalam segala hal Ia sama dengan kita - - kecuali bahwa Ia tidak berdosa. Makanya, ia pasti mengasihi keluargaNya dan tidak menginginkan mereka binasa selama-lamanya. Ia mau melakukan apapun untuk memenangkan mereka, kalau bisa memaksa mereka untuk percaya. Tapi ini tidak dapat Ia lakukan, sebagaimana seorang ayah tidak dapat memaksakan kehendak moralnya kepada anaknya. Tapi setidak-tidaknya Ia dapat menampakkan diri kepada salah seorang anggota keluargaNya dengan harapan mereka akan percaya. Dan memang ini nampaknya berhasil, sebab kita baca bahwa setelah kenaikanNya, saudara-saudaraNya menurut daging, berkumpul bersama-sama dengan kesebelas muridNya. Yakobus bahkan kemudian menjadi seorang pemimpin terkemuka dalam Gereja Kristen Purba (KPR 21:18). Ini membuktikan bahwa perubahan sikap yang bulat dipihak keluarga Yesus terjadi setelah kebangkitanNya. Perubahan seperti itu, seperti yang dikatakan oleh H.B. Swete hanya dapat terjadi sebab percaya bahwa Ia telah bangkit dari kematian, dan karena itu membuktikan diriNya sendiri sebagai Messias.

 Penampakkan yang istimewa ini - - kepada salah seorang sanak keluarga, tidak bisa tak dihargai dengan kecaman bahwa seorang sanak secara alamiah akan membela saudaranya sendiri. Ini benar hanya kalau sanak secara alamiah akan membela saudaranya sendiri. Ini benar hanya kalau sanak itu cocok dengan sanak secara alamiah akan membela saudaranya sendiri. Ini benar hanya kalau sanak itu cocok dengan sanaknya yang integritas dan pengakuannya sedang dipertanyakan. Kita lihat ini dalam kasus anak-anak komunis, yang didorong oleh negara mereka, melaporkan orang tua mereka sendiri yang menyeleweng dari prinsip-prinsip dan praktek komunis. Karena itu, Paulus membicarakan penampakkan Kristus yang bangkit kepada Yakobus- - untuk memperlihatkan bahwa sanak keluarga yang tidak cocok tidak dapat membantu tetapi memberikan kesaksian pada fakta bahwa  Yang ia lihat berdiri dihadapannya benar-benar adalah saudaranya, Tuhan Yesus Kristus.

 Tapi ada alasan baik bagi penampakan istimewa ini. Paulus meneyebutkan tiga manifestasi pribadi, dan menariknya masing-masing manifestasi itu menunjuk pada seseorang yang bersalah kepada Yesus tapi kemudian menjadi seorang pemimpin Gereja. Petrus telah menyangkali Gurunya: Yakobus meragukan pengakuanNya dan menganggap dia orang yang sakit pikiran,  dan Paulus pernah berusaha keras membasmi pengaruhNya didunia.

 Sungguh indah, bahwa Petrus yang karena dosanya telah menjadi pengecut dan menolak Tuhannya, diizinkan mengakui dosanya dan menerima pengampunan wawan muka dengan Tuhannya yang kekasih.

  Paulus memberikan alasan untuk penyataan Kristus kepada dirinya sendiri, dan semuanya juga dapat diterapkan dengan baik dalam kasus Yakobus. Pertama ialah bahwa Allah memilih untuk memanggil Paulus. Petrus, dirumah Kornelius, menerangkan kedaulatan Allah sebagai berikut: ”Yesus itu telah dibangkitkan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makandan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dan antara orang mati”{KPR10:40,41}.

 Sebagaimana Tuhan telah memilih Paulus, demikian juga Ia memilih Yakobus, yang kemudian menjadi saksi terkemuka bagi umat Israel untuk bertahun-tahun lamanya, dan akhirnya memeteraikan kesaksian itu dengan darahnya sendiri. Panggilan istimewa  Allah terhadap manusia selalu ditetapkan dihadapan kita menurut tinjauan urutan pelayanan pengorbanan. Abraham di berkati supaya kemudian ia bisa menjadi berkat. Para nabi tidak dilimpahi nubuatan-nubuatan dan penglihatan-penglihatan hanya untuk pencerahan rahasia mereka sendiri tetapi supaya mereka bisa menjadi instruktur umat.

  Itu juga alasannya Kristus memilih keduabelas muridNya,”Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”  (Yohanes 15:16). Tidaklah mungkin, tatkala Tuhan menampakkan diri kepada Yakobus, Ia berkata kepadanya, “Aku memilih engkau bukan hanya karena engkau adikKu, tetapi karena Aku memerlukan engkau untuk menjadi saksiKu di Yerusalem dan kepada bangsa ini, dan kepada dunia”?

 Tuhan yang telah hidup bersama-sama dengan Yakobus selama bertahun-tahun, tentu saja tahu kejujuran dan kualitas adikNya ini. Yakobus biasanya digelar si jujur dan rupanya ia pantas menyandang sebutan tersebut karena sifatnya yang blak-blakan. Ia salah seorang peragu pengakuan tertinggi Yesus, namun tidak ada tanda-tanda keirihatian atau prasangka buruk dapat dideteksi dalam perilakunya.

  Dan bagaimana level puncak kepemimpinan Yakobus dibuktikan pada konsili rasuli pertama yang diselenggarakan di Yerusalem. Galatia 1:18 menceritakan kepada kita bahwa tiga tahun setelah pertobatannya, Paulus pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Petrus. Mungkin kemudian ia bertemu juga dengan Yakobus dan berbincang-bincang dengan Peturs dan Yakobus bagaimana mereak melihat Tuhan yang bangkit. Namun, tidak ada apa-apa yang disingkapkan sifat pertemuan mereka dengan Kristus yang bangkit atau percakapan mereka dengan Dia. Mungkin apa yang terjadi dianggap terlalu kudus untuk diungkapkan. Dan itu mungkin merupakan sesuatu yang tidak akan menambahkan apa-apa kepada penegakan kebenaran bahwa Yesus benar-benar telah bangkit dari kematian. Ada percakapan dan penampakan Tuhan kepda individu-individu itu dan Tuhannya. Sungguh mengherankan bahwa Yakobus bahkan tidak pernah menyinggung penampakan pribadi Tuhannya kepadanya atau sesuatu yang Ia katakan . Tentunya hal itu dilakukannya untuk menunjukkan kerendahan hatinya, sebagaimanan diperbuat oleh Petrus , dan seperti kita tahu, juga diperbuat oleh Saul dari Tarsus.

 Barangkali pada senja, segera setelah penampakan yang lebih umum kepada 500 murid disebuah bukit, Tuhan datang kerumah tua di Nazareth untuk bertemu dengan Yakobus. Apa yang kemudian dipercakapkan kita tidak tahu dan tidak berani dispekulasi. Kalau dunia memerlukan percakapan itu,  pasti akan dicatat. Lebih bijaksanan bagi kita untuk mempertimbangkan apakah kita hendak menahan Kristus untuk menyertai dan berbicara kepada kita sendiri tentang hubungan kita denganNya dimasa lalu. Mari kita bersukacita bahwa kepada setiap murid, tidak soal betapa berdosa dan tidak konsistennya murid itu, namun telah diberkakan hak istimewa untuk mempunayi komunikasi pribadi dengan Dia yang mengenal setiap domba menurut nama-nama mereka; yang dari padaNya tidak ada sesuatupun yang tersembunyi, dan yang kasihNya yang menyelamatkan tidak dapat dipisahkan dari kita kecuali hati jahat orang yang tidak percaya yang menyintai kegelapan ketimbang terang. Dalam hal keselamatan, Kristus tidak mempunyai doktrin rahasia yang hanya akan diberikanNya kepada orang-orang tertentu saja. PesanNya dari atas sama bagi setiap mahluk ciptaan - - bagaimana sama juga untuk Petrus yang menyangkal Dia, kepada Saulus yang menganiaya Dia, dan kepada Yakobus yang meragukan Dia.

 Kita tidak perlu irihati kepada ketiga orang itu akan penyataan khusus yang mereka dapatkan. Kalau kita mengambil Alkitaib, dan menutup pintu kamar, kita menyendiri dengan Kristus. Dan kalau setelah membaca mau mencondongkan telinga kita untuk mendengar suaraNya yangt lirih, maka kita dapat mengetahui apa kesalahan kita yang Ia peringatkan, apa ketidak-setiaan dan keraguan kita yang Ia tegur, apa dosa kita yang Ia ampuni, apa nasehat yang Ia tawarkan kapada kita untuk hari-hari mendatang, dan apa perintah-perintah yang Ia minta ditulis ulang pada hati kita semua.

 Sumber :  CONQUERING THE FEAR OF DEATH,  An exposition of I Corinthian 15 based on the original Greek text,  terbitan AMG PUBLISHER,  Chattanooge,  TN  37422.

 Alibahasa:  Febrian Lumintang.

 

======

 

Pdt. Wahyu Wahono

PERGULATAN DALAM CAWAN

KEMURKAAN UNTUK TERWUJUDNYA

KEMURAHAN

 

Pdt. Wahyu Penderitaan hidup memang tampil dalam berbagai bentuk. Mungkin saja berupa perlawanan dari teman atau orang yang kita kasihi, bisa juga berupa pengalaman fisik atau mental yang menyakitkan, atau kegagalan yang menyebabkan rasa frustasi yang dalam. Namun semua itu harus dipandang berdasarkan perspektif yang tepat.

 

Pertama, orang-orang tak beriman yang Ia kasihi. Alkitab menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita justru sebelum kita percaya kepada-Nya. Rancangan keselamatan yang akan dikerjakan oleh Tuhan Yesus dengan Ia meminum isi cawan yaitu salib menjadi petunjuk yang tidak dapat kita pungkiri  bahwa kasih-Nya telah ada sebelum kita mengenal dan percaya kepada-Nya.  Kasih-Nya diberiberikan bukan setelah kita beriman, tetapi justru sebelum kita beriman kepada-Nya. Tantangan yang masuk dalam bagian pertama adalah dari dalam, dari pihakNya sendiri yaitu dari keluarga-Nya. Injil Yohanes 7 ayat 5 menunjukkan, “ Sebab saudara-saudara-Nya  sendiripun tidak percaya kepada-Nya”.

 

Kedua, Permusuhan religus bangsanya sendiri.  Dalam Yohanes 1:11 menuliskan, ”Ia datang pada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”, dan dalam Yohanes 7:1 menuliskan, “ …….orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya”.  Reaksi yang tidak pantas dari bangsa-Nya ini juga terlihat jelas dalam cawan yang Ia akan minum isinya.

 

Ketiga, Penyangkalan oleh orang yang sangat dekat dengan-Nya.  Suatu bukti yang dicatat dalam Injil Matius  26:69-75 yaitu Penyangkalan Petrus yang adalah orang yang dicatat sebagai salah satu murid yang dekat dengan Dia. Dalam bagian ini diceritakan bahwa Petrus menyangkal tiga kali atau tidak mengakui sebagai sahabat-Nya. Prilaku atau tindakan Petrus yang memalukan dan sangat menyedihkan juga merupakan isi cawan yang akan diminum-Nya.

 

Keempat, Penghianatan oleh Yudas Iskariot.  Injil Yohanes 13:21 menuliskan, “ Setelah Yesus berkata demikian, Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “ Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Dan kalau kita perhatikan perikup pada pasalnya menunjuk pada Yudas yang menyerahkan Tuhan Yesus untuk disiksa dan akhirnya disalibkan. Penghiatan Yudas ini juga terlihat jelas dalam cawan yang isinya akan Dia minum.

 

II. Apakah yang Tuhan Yesus lakukan dengan Cawan ini?

 

Pertama, Ia amat menderita di hadapan Cawan ini. Hal ini tertuang dalam Injil Matius 26:38, “lalu kata-Nya kepada mereka, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya,……………”. Pengungkapan-Nya ini menunjukkan suatu keadaan yang amat menderita untuk menerima dan meminum isi cawan murka Allah Bapa.

 

Kedua, Ia segan-segan menerima Cawan ini. Pengungkapan ini dapat terlihat dalam catatan Injil Matius 26: 39,  “Ya, BapaKu, jikalau sekiranya mungkin,….”. Kata, “jikalau sekiranya”  dapat diartikan suatu sikap segan-segan, yaitu bahwa Tuhan Yesus segan-segan menerima dan minum isi cawan itu. Namun dalam hal ini Ia tidak ada rasa bimbang atau ragu sedikitpun untuk mengambil dan menerimanya. Sebab Ia tahu secara persis bahwa Ia harus menerima demi terwujudnya keselamatan dunia, yaitu umat tebusan oleh darah Anak Domba, dan sengsara salib Anak Allah.

 

Ketiga, Ia menerima Cawan ini lalu meminum isinya yang maha-mengerikan, Langkah yang demikian dicatat dalam Matius 26: 42, ”…..jadilah kehendakMu.”.  Ini adalah langkah Anak Tunggal Bapa yang tidak pernah tidak taat. Ia tahu bahwa hanya Dia yang dapat mengerjakan hal itu, walau isi cawan itu maha dasyaat dan mengerikan. Maka Dia katakan jadilah kehendakMU. Kristus meminum semua isi “Cawan murka ini”, demi menggantikan kita, dan sebagai bukti bahwa Ia berpihak kepada kita sebagaimana telah dinubuatkan dalam  Yesaya  53:4-6, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikulnya padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam  oleh karenan pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan kesalamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejatahan kita sekalian”.

 

III. Apakah yang ada di dalam Cawan ini sekarang ini?

          CawanNya  ialah kran air mancur kita sekarang ini. Darahnya ialah anggur kita masa kini! Bagi kita sekarang ini, Cawan ini adalah sebuah Cawan untuk masuk dalam persekutuan dalam tubun dan darah Tuhan Yesus Kristus,  hal ini di tuliskan dala             I Korintus 10: 16 yang berkata, “… adalah persekutuan dengan darah Kristus,”. Jadi sesungguhnya cawan yang ada dalam Cawan ini sekarang ini ialah:

Berkat melimpah dan perhentian terakhir di dalam Allah. Harus dipastikan bahwa makna Cawan bagi kita, umat masa kini adalah melimpah kemurahan berkat Allah yaitu kelepasan jiwa yang terpenjara oleh kuasa kegelapan yaitu roh-rog jahat. Jiwa yang terkungkung dalam kenajisan dosa kini dimerdekakan oleh Cawan  kemenangan.  Kematian-Nya menganugerahkan kepada kita kehidupan yang pasti. Karena Cawan itu telah benar-benar diminum oleh Tuhan Yesus, dan Ia katakan sudah selesai. 

Berkat jalan masuk yang kekal. Tuhan Yesus Kristus telah menerima dan meminum cawan bagi kita, maka jalan masuk kedalam kehidupan yang kekal terbuka. Sebelum Tuhan Yesus menerima dan mengambil serta meminum isi Cawan kematian jalan masuk hidup kekel tertutup rapat dan tidak terlihat. Tapi kini jalan itu terlihat dan terbuka bagi siapa saja yang percaya kepada-Nya.

Berkat mengenai suatu pemeliharaan baik dari Tuhan. Dalam Amsal 22: 4 dikatakan disana, “Ganjaran kerendahan hati dan takut Tuhan adalah, kekeyaan, kehormatan dan kehidupan”.  Bagian ini menunjukkan bahwa setiap orang yang menaruh penyerahan kepada Tuhan yaitu rendah hati dan takut kepada-Nya, akan menerima ganjaran yaitu jaminan Tuhan. Ganjaran yang dimaksudkan dalam bagian ini adalah jaminan pemeliharaan Allah. Jadi kuncinya adalah rendah hati dan takut kepada Tuhan pasti mendapatkan pemeliharaan yang baik dari Tuhan. Bukankah Ia juga berkata, bahwa Ia menyertai kita sampai kesudahan alam?

 

Berkat kepimilikan surga – ahli waris dan ahli waris bersama. Kata ekstrim barangkali baik juga disebutkan disini yaitu bahwa, tidak ada sorga tanpa “Cawan Mematikan” yang diambil Tuhan Yesus. Sengsara dan kematian serta kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian-Nya memungkinkan kepemilikan sorga bagi kita. Jadi jangan berharap orang berdosa, orang yang belum lahir baru yaitu yang belum percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi jangan mengharapkan memiliki sorga! Bagi kita yang sudah percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi akan menjadi ahli waris. Gereja Tuhan secara bersama akan menjadi ahli waris sorga. Sebab sorga hanya disediakan, diperuntukkkan bagi kita dan gereja Tuhan.  Oleh karena itu  perpikirlah dengan sebaik-baiknya sekarang, jika Anda ingin menolak tawaran Cawan keselamatan ini. Ya, Cawan murka ini. Apakah Anda tidak gentar?

 

Masih ada kesempatan untuk kita menerima kehadiran-Nya. Masih ada kesempatan bagi kita. “Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!”

(Lukas 24:36)