home
 
fb icon
tweetlogo

Jangan Lagi Takut

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2Tim 1:7)

Salah satu alasan mengapa seseorang sulit atau malas tersenyum adalah karena ia sedang dengan masalah. Bisa juga ia malas tersenyum karena sedang sakit gigi atau masih banyak alasan lain. Tapi yang jelas dalam tema ini, perlu diperhatikan bahwa orang yang sedang dalam tekanan persoalan sering menikmati dunianya sendiri. Dimungkinkan dia akan menjadi pribadi yang untuk sementara kesepian bahkan di saat berada di tengah-tengah hingar bingar dunia. Ia akan cenderung berpikir bahwa dia adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, ia akan mencurahkan energinya untuk memikirkan mengapa persoalan itu terjadi dan bagaimana memecahkan persoalan itu.

Sebelum masalh terpecahkan, energi pikiran dan perasaan orang akan terkuras untuk berfokus pada permasalahan tersebut. Sayang sekali jika dirasa persoalan itu tidak segera terselesaikan karena memang ia yakin tidak mampun menyelesaikan atau jika ia tidak yakin apakah akan ada orang lain yang datang untuk menolongnya.

Dengan semakin meningkatnya ketakutan ia tidak lagi begitu sadar bahwa ia memiliki potensi besar untuk menggali sumber pertolongan.  Ketika seseorang sudah sampai pada keyakinan bahwa siapapun tidak bisa menolong dia maka mestinya harapan satu-satunya adalah bergantung pada Dia yang menciptakan dan memberi kehidupan padanya. Kita semua tahu siapa Dia itu. Kemungkinan selama ini atau selama itu Dia sudah tidak terdengar suaraNya karena memang tidak diijinkan olehnya untuk membisikkan sesuatu kepadanya apalagi mengajak berbincang-bincang dengan dia. Entah sejak kapan, Dia hilang dari peredaran.

Boleh saja Dia ditinggalkan selama ini, entah sejak kapan. Itu pasti pada saat ia tidak butuh pertolonganNya. Tapi untuk kali ini dia harus mau tidak mau menemui Dia untuk menolongnya. Karena Dialah satu-satuNya sanggup dan bersedia menolong dia dalam situasi itu. Lagipula Dia sebenarnya masih di dekat-dekat orang itu. Hanya dengan mengundang Dia dan mempercayai bahwa Dia pasti bisa menolong, maka Ia akan mengambil alih masalah dia. Tapi tentu saja sebagai kepantasan dia mesti minta maaf kepadaNya karena telah mengabaikan Dia selama ini.

ika proses itu telah terjadi dia tinggal menantikan karya besarNya atas persoalan Dia. Sungguh, Dia akan memberi keteduhan kepadanya. Dia memang tidak banyak bicara, paling-paling hanya berbisik kepadanya  “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: "Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau." (Yesaya 41:13). Jika dia sudah mendengar bisikan itu maka hatinya akan teduh dan pikirannya akan menjadi jernih. Ia akan bersemangat lagi, Sejak itulah dia akan haus untuk mendengar petunjukNya mengenai langkah-langkah yang harus dia tempuh. Yang menakjubkan, saat itulah dia segera tersadar bahwa ia harus juga melibatkan saudara-saudara seiman yang lebih senior atau gembalanya yang sudah lama ia lupakan, tidak lain untuk meminta dukungan doa dan advisnya. Memang sedikit kerumitan akan harus ia alami. Tapi itu tidak menjadi masalah karena ia sudah berada di tangan yang benar, baik Tangan yang tidak kelihatan maupun tangan-tangan yang siap menolongnya.

Jika ia sadar sebenarnya di waktu lalu Ia sudah melakukan perkara besar untuk dia. Itu kalau dia tidak malu untuk mengakuinya. Dengan demikian, pasti di masa kini, di saat ia mengalami masalah kehidupan, Tuhan akan menopang dan menolongnya. Bahkan di masa yang akan datang Ia akan melakukan hal yang sama. Jadi, tidak ada alasan untuk takut, bukan? Amin.  

Soerjan

Renungan